Lowo Ireng Dan Petir 1

Pada zaman dahulu kala ada Cerita dari sebuah Kerajaan kecil/dari Kadipaten yang bernama BUWANA MOJA LUHUR. Pada masa kekuasaan Raja ke-3 yaitu Banu Aryo Birowo. Pecahan dari kerajaan-kerajaan terdahulu.Menjadikan Kadipaten/kerajaan kecil Islam serta dibebaskannya mendirikan Pondok-Pondok ulung di tempat tersebut. Menjadi tempat tersalurnya pendakwah-pendakwah hebat, Punggawa-punggawa yang hebat,serta prajurit-prajurit kerajaan yang tak perlu diragukan kemampuan dalam hal ilmu Kanuragannya.Bercerita tentang Kadipaten Buwana Moja Luhur hiduplah 2 sahabat karib atau lakon dalam cerita ini, bak seperti saudara sekandung yaitu Abdul Hussein Sasongko dan Ahmad Indra Susena.Dua lelaki yang memiliki sebutan/julukan Kyai Lowo Ireng alias Hussein serta Kyai Petir Geni alias Indra. Yang sangat-amatlah berbeda mulai dari cara penampilannya, berbicaranya, kemudian cekatannya serta ilmu kanuragan masing-masing dari kedua anak tersebut. Lain orang tua, lain penampilan dan lain gaya.

Berkisah tentang Indra Susena kecil yang memiliki sifat jahil,lucu, terkadang pendiam,terkadang agak keras nan kaku, serta lantang dalam berbicara.Fisiknya atau berpawakan tinggi sekitar 179cm serta berat badan sedang atau tidak terbilang gemuk.Beda lagi dengan fisik serta kepribadian Hussein yaitu pandai, cerdik, serta amat penurut. Hussein berpawakan tak cukup tinggi alias berpawakan lebih pendek dari pada Si Indra yakni sekitar 167 cm, serta berat badan sedikit agak gemuk tetapi gempal. Si Hussein, pada masa atau mau menginjak remaja yakni dikampungnya berjuluk Lowo Ireng dikarenakan ia selalu bepergian pada tengah malam ke Surau atau Mushola sederhana yang tak jauh dari rumahnya. Wajibnya rutin dan Sunahnya pun rutin nan ketol banget. Lalu, hanyalah untuk sholat hajat ataupun tahajud secara munfarid,serta terkadang pula berjamaah dengan sahabat karibnya tersebut. Ia adalah anak ajaib nan pemberani, walaupun terkadang pada waktu pertama terasa canggung, was-was, serta sedikit ada rasa ketakutan yang lama-kelamaan terbiasa juga dengan kebiasaan keluar malamnya tersebut. Sungguh anak aneh bin ajaib, yang melebihi orang-orang awam, Subhanallah. Sementara itu pada Indra sendiri, ia pun berkata; “bisa melakukan kegiatan wajib sudah merupakan nikmat yang sungguh tak ternilai harganya. Hal tersebut merupakan hal paling nikmat dan paling menenangkan hati ini”. Ujar Sohib Si Hussein yaitu Indrasusena, sambil ia tiduran santai dikursi panjang yang terletak di selatan atau samping kanan Surau.

Indra dan Hussein sebenarnya bukanlah saudara kandung, tetapi sudah berteman akrab nan solid. Susah-senang,canda serta hal-hal lain mereka jalani tanpa rasa keterpaksaannanInsha Allah Ikhlas Lillahi ta’ala. Pernah ada suatu kejadian yang membuat runyam satu Kampung yaitu Ayah dari teman baik mereka berdua atau sohib baru mereka, yakni bernama Wahyu Tegar Surya Pratama lagi terbelit masalah. Ayah dari Surya ini membunuh Perampok/tukang palak serta tukang-tukang jambret sertamereka tak segan-segan membunuh bahkan membantai jikalau tak ada uang setoran keamanan. Yang merajalela, keseringan buat ulah, dan mengganggu ketertiban/kenyamanan suasana pasar Desa Jati Kembar. Jikalau Indra dan Hussein lapor maka Ayah dari Surya ini akan dipenjara seumur hidup. Jikalau mereka berdua tak lapor yakni kepihak kerajaan/kepada petugas keamanan kerajaan akan dituduh menyembunyikan tersangka pembunuhan. Akhirnya setelah mendapatkan bukti-bukti yang jelas serta para saksi-saksi yang dapat dipercaya. Kesimpulannya yakni Ayah Surya tetap menjalani hukuman kurungan penjara. Tetapi, tidak seumur hidup melainkan denda kurungan 4 setengah tahun saja, dikarenakan beliau atau Ayah dari Surya ini selamatkan kenyamanan pasar tersebut. Hal-hal itu, mendapatkan apresiasi serta dukungan para warga sekitar, serta istimewanya lagi mendapatkan penghargaan pengangkatan menjadi Punggawa Kerajaan dari Raja Banu Aryo Birawa setelah denda kurungan nanti.

Itulah pertolongan mereka berdua yakni dari Hussein dan Indra yang mendapatkan “Hikmah yang luar biasa” terhadap Surya Pratama teman barunya tersebut.Yakni pengalaman yang tak terlupakan serta menguras emosi.Walau Ayahnya dipenjara, SiSurya tetap salut dan tetap bangga terhadap kegigihan dan keberanian Boponya tersebut. Dikarenakan telah menyelamatkan harta benda milik orang lain yang tidak berdaya nan lemah.Indra dan Hussein telah membantu Surya, meski tak seberapa semoga bisa dijadikan contoh untuk semua orang.Karena tak semua orang memiliki hati Tulus-Ikhlas serta Pandai seperti mereka berdua.Tak perduli akan jabatan/pangkat, status dls. Semua dianggap sama oleh Hussein serta Indra Susena.
Tentang kisah singkat Abdul Hussein Sasongko adalah jeblosan Ponpes asli sejak usianya masih kecil yakni kurang lebih pada usia6 tahunan. Yang Notabene sangat menghargai kehendak orang tuanya. Sangat rajin beribadah, baik itu Wajibmaupun Sunahnya. Sangat baik atau positif bisa dijadikan contoh untuk orang lain, agar lebih giat ibadahnya yakni agama islam yang utuh dan ia berusaha agar menjadi muslim yang tangguh nan sopan. Demi menggapai cita-citanya yaitu menghafal Alqur’an serta maknanya secara menyeluruh, dan mengungkapkannya melalui bidang dakwah/syiar agama islam keseluruh Nusantara.

Beralih cerita yakni tentang Indrasusena, malahan memprihatinkan. Bertolak belakang dengan kisah sahabat karibnya tersebut. Tragis nan memilukan serta semoga tak terjadi pada kehidupan nyata saat ini. Yakni berkisah pada Ayahnya yang pemabok berat, sedangkan ibunya adalah Ratu Bordir didesa tempat lahir Si Indra. Tepatnya, tetangga desa tempat Si Hussein. Sangat terkenal sekali dua orang atau suami-istri tersebut. Kedua orang tuanya tersebut sudah meninggal 3 tahun yang lalu, pada saat Indrasusena berumur kurang lebih 14 tahun. Indra Widodo, ialah pemabok berat yang hampir nyaris/tak sempat bertaubat akibat kecanduan air haram tersebut. Ibu dari Indra bernama Ambarwati Susena meninggal dalam kecelakaan kereta kuda.Lalu naas, setelah itu masuk ke jurang. Keduanya mati serta memiliki cap sebagai Pemabokdan Ratu Bordiratau penjual para pelacur-pelacur muda. Yang secara mengenaskan meninggal tanpa mengucapkan 2 Kalimat Syahadat. Indra, terus berusaha, berdoa-berdoa dan hanya bisa berdoa agar ruh Ayah beserta Ibunya diberikan Nikmat kubur atau berharap semoga diberikan kenikmatan kubur, walau sebentar. Meskiperbuatan positif mereka berdua, tertutupi dangan kehidupan-kehidupan yang Nista dan Durjana .

Kemudian kembali lagi ke Si Dul Hussein, iapun juga rasakan hal yang sama yaitu ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh kedua orang tuanya. Ayahnya Kyai Ahmad Hussein beserta ibunya Nyai Siti Laksmi Sasongko, meninggalkan pesan untuk anak semata Wayangnya. Mulai dari ayahnya berujar; “Dul Hussein, wahai anakku. Engkau tak boleh bertindak semau-mu. Bertakwalah kepada Allah Swt. beserta Sunah-Nya, haruslah patuh terhadap kehendak orang yang lebih tua darimu. Haruslah menjalani kewajiban yang diperintahkan-Nya serta jauhilah semua larangan-laranganNya sesuai petunjuk Alquran Yang paling Khak. Engkau harus menjaga kondisi tubuhmu agar sehat serta semoga tak ada halangan ketika Hussein melakukan hal-hal yang berat. Tak perlu, memaksakan keluar malammu itu. Sesekali itu boleh, tapi yang jelas jangan sampai mengganggu jiwaatau mental kejiwaanmu itu. Anakku Dulhussein, dirimu itu masih muda, sudah lakukan ibadah wajib saja dirimu sudah laksanakan secara keseluruhan bahkan itu semua akan melebihi dari yang kau bayangkan,nak”. Lalu atau kemudian Ibu dari Hussein pun juga memberikan tuturan terakhir yakni ; ”Dikau masih muda dan perjalanan hidupmu masih akan banyak cobaan yang harus kau hadapi sendiri, Le!… Jangkauan hidupmu masih perlu kau terima dengan kesabaran nan ketekunan yang lebih. Dan kamu masih perlu banyak ilmu yang mumpuni. Keinginan ayah dan ibumu ini hanyalah dimasa depanmu kelak menjadikan contoh yang positif bagi orang lain. Tak perlu berlebihan namun pasti.Ibumu dan ayahmu ini memperbolehkan melaksanakan ibadah rutin malammu itu, tetapi jangan sampai kau melupakan kegiatan keduniawianmu itu”. Kata ibunda Hussein terbata-terbata, namun halus logatnya karna lemah. Bercucurlah, ia (Dulhussein) keluarkan air matanya itu.

Berpegang tanganlah Biyung dan Romo si Hussein yang secara serempak pula terbujur lemah nan lunglai tak berdaya di kasur beralaskan kayu. Lalu, berhembuskannya nafas terakhir mereka berdua. Innalillahi wainnailaihirojiun… Sungguh kasihan, si anak ini (Hussein) yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Untunglah, kedatang seorang kakek yang sudah renta menua. Tetapi, langkah beliau tegap nan gagah perkasa. Orang tua tersebut adalah ayah dari Almarhummah Siti Laksmi Sasongko, bernama sekaligus bergelar Syekh Abdul Sasongko Puspito, dipanggilnya Kakek Sasongko oleh Hussein. Kakek dari anak ini memiliki kekuatan yang sakti-mandraguna. Pada awalnya DulHussein tak terpukau, dikarenakan ia masih rasakan duka cita yang amat dalam atas sepeninggal kedua orang tuanya yang secara bersamaan. Lama-kelamaan nan lambat laun ia tertarik,terhibur serta kagum nan takjub melihat keajaiban tenaga dalam dari Kakek nan ajaibnya tersebut.

Disaat itu pula Hussein harus pergi/tepatnya merantau ke tempat kakeknya bersinggah, yaitu di Desa Sumbersari sebelah barat Desa Jati Kembar yang jaraknya amatlah jauh. Dulhussein tak lupa mengajak Indra Susena yakni ia sudah dianggap seperti saudara kandungnya sendiri, ‘tuk hilangkan kesedihan-kesedihan yang pernah mereka alami. Si Hussein pun tak tega melihat saudaranya sendiri terlalu kalut nan bersedih, ia segera mengajak Indra agar suana hati dan fikirannya itu berubah menjadi riang, agar tak lagi mengingat masa lalunya. Mereka berdua serta kakek tua tersebut mungkin/kurang lebih memakan waktu 2 x 24 jam atau sekitar 1-2 hari, dikarenakan mereka bertiga menggunakan transportasi gratis yakni jalan kaki.Melelahkan nan suntuk tetapi asyik, seru dan makin tambahnya pengalaman-pengalaman menegangkan atau petualangan yang tak pernah mereka alami sebelumnya. Menemukan hal-hal baru diantaranya ialah ilmu beladiri, ketenangan hati yang sesungguhnya, kesabaran dan keuletan yang bisa memotivasi diri sendiri, agar dapat menahan hawa nafsu yang bisa jerumuskan mereka kedalam api neraka. Lalu, mereka berdua serta Kakek Ajaib nan Sakti tersebut memberhentikan latihan,pada saat pas akan sore hari. Melepaskan lelah sejenak, di kedai warung sederhana, sesambilnya minum Kopi,Teh ,serta Susu.

<<<…>>>
Singgahan dari Syech Sasongko yang sebenarnya sangatlah jauh dari unsurmegah,mewah,dan hanya beratapkan dedaunan kering. Bisa dibilang sebagai singgahan bergubuk tua. Gubuk tersebut sederhana, sesederhana penampilannya. Berjulukan Syech dikarenakan ia penghafal Alquran handal,pemuka agama yang arif,penyampaian tentang agama islam atau dakwah Beliau Tersebut mengandung hikmah nan petuah bermakna dan sangat santai dalam membawakan Metode Syiarnya nan sejuk ketika diperdengarkan. “Saudara-saudaraku dan para pendengarku yang terhormat, apalah arti hidup ini tanpa adanya ketaatan, sopan nan santun, kesabaran serta perang terhadap hawa nafsu. Berjihad bukan berarti kita berperang melawan musuh atau terhadap sesama kita, bukan berarti menggunakan pedang saja serta menaiki kuda yang siap melompat dan berbadan berotot. Tapi, yang sesungguhnya hal itu berarti kita telah tegakkan agama kita supaya tak goyah. Perangilah hawa nafsu yang mengganjil dihati, serta perangi kekalutan atau kekhawatiran atau kegalauan hati-fikiranmuini dengan selalu berdzikir Kepada-Nya. Sesungguhnya Lawan terberat di dunia ini ialah ketika kita melawan diri kita sendiri serta menjadi pahlawan yang sejati ialah bisa bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita dan tak perlu imbalan. Gunakanlah rasa ikhlas, tuk kesempurnaan hidupmu.

Dermawankanlah atau berbagi rezqi/harta-benda kesesama tuk kemlasahatan umat. Tata Tentrem, kertaraharjo. Serta kebaikan yang bermanfaat. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak. Allah yang Maha Pengampun, Maha penerima taubat, Lalu Dia-lah yang menguasai bumi-langit serta seisinya. Allah Swt. tidak suka dengan orang-orang yang selalu berbuat kesombongan, keangkuhan, iri terhadap sesama kita”. Itulah kata-kata/tuturan/pesan sekaligus amanat bermakna dari kakek kandung Dulhussein dan Guru baruIndrasusena. Gubug Tua yang fenomenaltersebut berada di hutan yakni Pertengahan/inti dari Kerajaan Buwana Moja Luhur. Tak sembarangan orang bisa temukan Hutan Belantara tersebut. Yang mungkin, hanya orang-orang terpilih dari sekian murid Ki Sasongko. Keberadaan hutan angkertersebut memanglah menjadi Fenomenalnan sensasi dan sangat-sangat rahasia.

Desa Sumbersari Ki/Syekh/Kakek Sasongko ini beserta para warga atau penduduk setempat telah membangun Pondok Pesantrean dinamakan “AL-MUKSIT” didekat rumah Ki Demang setempat yakni disebelah barat rumahnya. Demang/ sekarang Kepala Desa yakni bernama Danu Baya ini sangatlah baik hati terhadap Ki Sasongko,yang telah bersedia sebagian tempatnya didirikan/sebagai tempat penyebaran agama islam berbentuk Ponpes. Lalu tempat atau tanah tersebut juga dibangun Surau atau Mushola sederhana sebagai tempat beribadah para Santriwan-Santriwati serta Para penduduk Desa Sumbersari, dan agar lebih mengerti makna Islam secara keseluruhan. Tutur kata Ki Sasongko yang amat bermakna,arif serta tampilan sederhananya dapat menginspirasi banyak orang nan dapat memotivasi orang-orang yang dilanda kepesimisan. Mengandung makrifat serta Insha Allah bermanfaat bagi orang-orang yang Lalim Lagi Mungkar.
Suatu ketika pada malam bertaburan bintang nan elok dipandang, Kakek Sasongko sedang menasehati cucu angkatnya di emperan Suraunya yakni Indrasusena dengan tuturan kata yang halus nan pelan;“… janganlah kamu menjadi anak atau seseorang yang lemah serta tiada guna, Lagi tak berterus terang. Karna itu merupakan jalan ke kebatilan yang nyata”. Lalu, disaat itu pula hati dari Indrasusena terenyuh sesambilnya ia menitihkan air mata. Si Indra teringat masa-masa masih kecil yakni kurangnya kasih sayang nan perhatian dari kedua Orang tuanya. Tetapi, ia sangat-amat bersyukur serta teramat bahagia nan senyuman disertai tangisnya memiliki Kakek angkat Bak orang tua kandung sebaik,sebagus serta seistimewa Sang Kakek Abdul Sasongko Puspito itu. Keluarlah air mata Si Indra menitih dan bercucuran. Dan, Ki/Kakek Sasongko tersebut menyuruh anak malang nan sebatang-kara itu untuk memeluknya ketika saat-saat merindukan Biyung serta Romonya yang sudah tiada. Sungguh manisnya dan sungguh menyayat hati yang mendengar tetangisan anak tersebut. Si Hussein pun yang berada di samping kanan Kakek Sasongko ikut terharu. Ki Sasongko mengedip dan menganggukkan kepalanya kepada cucu kandungnya tersebut. Tuk seraya dan menyuruh memeluk Kakek tangguh nan ajaibnya tersebut.

Dalam kurun waktu kurang lebih 3-4 tahun Dulhussein dan Indrasusena telah menguasai dan hampir mirip seperti guru besarnya tersebut. Mulai dari sopan-santun, keseriusan dalam berdakwah, kanuragan, serta sekaligus ceramah di Kademangan/tempat-tempat/didaerah pedesaan sekitar Wilayah Kadipaten Moja Luhur. Lalu suatu hari, tepatnya hari senin legi datanglah teman lama mereka yang hampir atau kurang lebih 3 setengah tahun tak bertemu yaitu Tegar Surya Pratama beserta Ayahnya yang sudah menjadi Punggawa kerajaan yakni Tuan Andaka Kusuma Adiyaksa. Paman/tuan Kusuma Adiyaksa ini ingin sekali menitipkan Si Surya agar menjadi murid/Siswa Ponpes Al-Muksit.Dan semuanya menerima dan menyambutnya dengan sopan nan ramah, penuh dengan sapaan senyuman serta kehangatan kesetia kawanan. Tak terasa waktu kurang lebih 3 tahun telah tertempuh, bebarengan dengan kedua temannya itu Si anak cekatan ini atau Si Surya ini, sudah layak atau dapat disebut sebagai Kyai yang berusia muda kira-kira berumur 18 tahun, pada saat tersebut. Sungguh kondang dan amatlah cekatan sekaligus cerdas. Surya tersebut memang anak yang istimewa dibandingkan anak-anak seusia/sebaya/sepantarannya. Waktu dengan bergantinya hari, Syekh Sasongko yang dibantu oleh cucunya Hussein dan Indra dapat membimbing para Santriwan-santriwati menjadikan masa depannya/ para pemuka agama masa depan yang handal atau kelak dimasa yang akan datang.

Kakek sasongko tiba-tiba pada perenungan tengah malamnya, dan ketika hari tersebut tepatnya sesudah sholat sunah Tahajud. Ditemani oleh kesunyian malam, disertai kicauan Jangkrik yang beriringan. Ketika itu pula kedua cucunya, serta para murid/santriwan-santriwati sudah terlelap tidur dalam mimpi yang tenang. Disaat-saat itu, beliau berdzikir secara Khusyuk lalu berdo’a agar para murid-muridnya tersebut sehat dan selamat dari siksa api neraka, serta dijaga keimanan islamnya oleh Allah Swt. .Selain hal-hal tersebut, beliau dapat/secara tiba-tiba membaca mimpi cucu Terkasihnya yakni Si Dulhussein.Bahwasanya, cucunya tersebut telah bermimpi bertemu Gadis yang cantik-jelita, senyumannya yang menawan bagai sesosok Bidadari atau kecantikannya tiada duanya.Matanya yang berwarna kebiruan, bibirnya yang merah merona, serta mengenakan jilbab berwarna merah, sungguh teramat-sangat memikat hati. Ki Sasongko kemudian terbangun dari perenungannya tersebut. Dalam benak serta mata-batin beliau bertanya-tanya; “siapakah wanita yang ada didalam mimpi cucuku,itu…?” .Dengan bibir sedikit tersenyum (Beliau atau Syech Sasongko), serta berharap yang terbaik ‘tuk cucunya tersebut.Dipagi hari, yang masih ditemani oleh kesunyian gelapnya langit, sekitar pukul kurang lebih 3.30 pagi. Langit yang tampak masih menghitam, ditemani gemerlapan cahaya bintang nan indah.

Kemudian, Hussein yang baru saja terbangun dari tidurnya serta sehabis mimpi. Lalu secara tiba-tiba, pemuda tersebut disapa salam oleh kakeknya itu dengan lembut. “Assalamu’alaikum, kamu sudah bangun, ngger!..bangunkan juga ya teman-temanmu?!”. Sesambilnya beliau mengusap-usap kepala cucunya. “wa’alaikum salam,kek”. Jawab Hussein. Kakek Sasongko lalu bertanya lagi; “Siapakah sesosok wanita yang berada di mimpimu,tadi…?”. Merasa terheran-heran, serta merasa aneh bin ajaib Kakek Sasongko bisa menebak isi mimpi cucunya itu. Lalu Hussein membalas tutur sapaan kakeknya itu;”Mohon maaf kakek, panjenengan kok bisa menebak mimpiku semalam?” . Tanya Hussein. Tuturan kata pemuda itu atau ujar Hussein agak terbatah-batah (sambil bebarengan kata dihatinya). Lalu, dengan tersipu-maluia pun pergi menyiapkan Adzan Subuh. Sebelum itu, pemuda tersebut membangunkan semua murid-murid/para santriwan-santriwati.
Kakek Sasongko pada waktu itu,juga rasakan bahagia telah juga merasakan atau ikut terbawa suasana hati cucunya tersebut, yang telah merasakan tertarik pada lawan jenis.Beliau merasakan dibenaknya, yaitu bahwa wanita tersebut adalah jodoh untuk Dulhussein, dan yang paling tepat untuknya.
<<<…>>>

Kyai Muda Lowo Ireng sering kali terlihat ceramah di desa-desa dekat Pondok Pesantrennya. Bahkan, ia pernah mendapat panggilan tuk ceramah/tausiyah terjauh yaitu luar pulau atau Pulau Sabrang. Lowo Ireng alias Hussein ini kemarin lusa tepatnya pas pada waktu didawuhi oleh Syech/Ki/Kakek Sasongko untuk menyuruhnya ke berbagai tempat, tepatnya terakhir Hussein Tausyah yakni pada sore ini.Pada sore ini, yakni berada di Pondok Pesantren Al-Khamid. Ponpes tersebut berada di sebelah barat perbatasan Desa Sumbersari, yaitu bernama Desa Arjo Madya . Kyai Muda Abdul Hussein Sasongko terheran-heran dan kemudian terkagum-kagum lalu hampir tak percaya. Bahwa, disamping utaranya Ponpes Al-Khamid dibangunnya Masjid yang begitu Megah dan terasa sejuk. Secara tiba-tiba pula ia bertemu lagi-lagi dan lagi dengan sesosok atau seorang perempuan yang selama ini ia kagumi hingga terbawa mimpi. Si wanita tersebut berbicaranya halus, serta tanpa adanya teriakan darinya. Sebelum Kyai Muda Abdul Hussein Sasongko berceramah, kemudian ia tiba-tibadihampiri oleh Sang Mempesonaitu. Sang Mempesona itupun menyapanya dengan salam yang penuh dengan kelembutan, dan ketika itu Si Abdul Hussein merasa deg-degan serta tak tahu harus bicara apa. Harus apa dan bertindak apakah selanjutnya?…(Hussein merasa bingung ketika dihampiri wanita secantik Sang Mempesona tersebut ).

Jikalau bertatapan muka terhadap orang yang belum dikenal, ia tak berani menatapnya lama-lama ataupun terhadap seorang pria yang belum Makhromnya. Secara pelan-pelan ia bertuturan sapa dengan Kyai Muda Lowo Ireng, serta ia juga menjaga jarak. Ia menjaga sikap demikian karna hal tersebut adalah perintah sekaligus amanat langsung dari Ibunda-nya Sang Mempesona; “… Bahwasanya, seorang wanita dilihat sopan serta kepositifannya itu dilihat dari tutur sapanya serta tata kesopanan nan budi pekertinya. Baik itu dari tingkah laku maupun bicara yang halus, itulah wanita muslimah yang sesungguhnya. Patuhlah terhadap orang yang lebih tua darimu. Yang perlu kau camkan sampai kau tua nanti ialah harus patuh terhadap hukum/peraturan adat-istiadat ketimuran. Menundukkan kepala bukan berarti lemah nan tunduk terhadap musuh, tetapi itu adalah tanggung jawab terhadap kesopanan diri kita sendiri”. Itulah tuturan dari Ibunda Sang Mempesona ketika ia masih kecil berumur 7 tahun, agar kelak ia tua nanti bisa menjadi contoh yang luhur bagi keturunannya kelak. Sang Mempesona itu, lalu bersalaman dengan Kyai Lowo Ireng dengan penuh kehati-hatian, supaya tak timbul fitnah yang sia-sia. Si Hussein sedang mencoba menggerakkan hati dan fikiran, atau memberanikan nyali serta mentalnya untuk sapa-kenal dengan Sang Mempesona nan aduhai jelita itu. Namanya pun ia sudah dapatkan dan ternyata oh..ternyata!?Muncul-lah hal-hal yang tak disangka-sangka dan Kyai Muda Hussein pun terkejut pelan. Sang Mempesona atau Si Wanita ini adalah anak Kyai Subkhi Abdurrahman, Pengurus sekaligus pemilik Ponpes Al-Khamid yakni tempat dimana Kyai Muda Dulhussein akan berceramah atau tausyah di Kampung Arja Madya.
Kemudian,… pada waktu itu Kyai Abdul Hussein Sasongko merasa canggung dan mendadak merasa sungkan. “waduh bagaimana ini?, jikalau nanti pas aku ceramah nggak bisa konsentrasi. Waduuh..!cilaka dua belas nich..” (kata dalam hatinya).“Tetapi,harus menetapkan hati serta yakin terlebih dahulu, serta Lillahi ta’ala. Agar situasi ini tak terbawa waktu tausyah nanti”. Kata ujaran pelan-pelan Kyai Hussein. Sang Mempesona tersebut bernama Ayu Kumala Sari . Sungguh, teramat sangat cantik serta sangat indah nan ayu ciptaan Allah Swt. . Sederhana, tapi begitu dipandang fikiran tak bisa lupakan pesonanya. Yang Nampak anggun dengan kerudung merahnya itu. Singkat kata, Ayu atau Sang Mempesona juga mulai ada rasa ketertarikkan/kecocokan yang sama dengan Hussein alias Kyai Lowo Ireng itu. Subhanallah..

Sang waktupun berjalan Nampak begitu cepat. Bergulirnya waktu, yang telah larut dalam buaian sapa. Setelah itu, tibalah sholat isya’. Setelah sholat isya’ berjamaah atau berakhirnya sholat wajib, Kyai Muda Dulhussein sudah Bersiap-siap tuk mengisi Tausyah/Ceramah di masjid Besar Ponpes Al-khamid tersebut. Kemudian setelah itu, dan tak terasa 3 setengah jam berlalu. Lalu, Kyai Abdul Hussein pun mengakhiri ceramahnya atau pamit mengakhiri tausyahnya, yang disertai Do’a akhir acara… . Dikarenakan, bahwasanya Ponpes Al-Khamid dan Pondok Pesantren Al-Muksit tak jauh. Secara tiba-tiba pula, Si Ayu Sari bersedia mengantar Kyai Lowo Ireng atas dawuhan Romonya yakni Kyai Subkhi. Dengan berjalan perlahan-lahan, mereka berdua saling bertuturan sapa, tetapi Ayu Sari Tetap Merundukkan kepalanya serta sopan, sambil ia tersenyum nan tersipu-malu, kepada lelaki disampingnya itu. Sebentar melihat wajah Hussein, sebentar menoleh dan tetap merundukkan kepalanya. Tibalah, Hussein dan Ayu Sari diperbatasan desa. Lalu Dulhussein menyuruh Ayu Sari untuk segera pergi dengan tutur kata yang sopan nan lembut, dan tidak menyinggung perasaan wanita secantik Sari ini… . “Ayu Sari, ini sudah terlampau malam serta jalan ini sudah akan menuju diperbatasan desa. Jikalau engkau ingin ke Pondok-ku, besok saja. Lebih baik kau kembali, nanti Ayahmu lebih perasaan atau nanti khawatir”. Kata Hussein. “Baiklah, aku ‘kan segera pulang. Semoga hari-hari besok kamu menyenangkan”. Kata Ayu Sari. Diberikannya ‘Slempangan/Sorban panjang’ oleh Hussein agar Si Sari tak sendirian ketika kedinginan. “Slempangan milik Hussein ini, semoga bisa menghangatkan tidurmu,nanti!?”. Tutur kata perpisahan dari pemuda itu untuk Sang Mempesona Ayu Sari.

Setapak demi setapak sekitar 25 langkah lagi dari perbatasan desa dengan Ponpes Al-Muksitakan segera tiba. Rupa-rupanya sudah menunjukkan sekitar pukul 1.30 malam, Hussein pun segera menyiapkan Sholat Sunah Hajat. Melihat Para Santri-santrinya terlelap tidur, Kyai Lowo Ireng terasa tak tega membangunkan anak-anak asuhnya tersebut. Tiba-tiba muncul salam dari Indra Susena dan Si Surya. Dua Sobat Karibnya tersebut, juga mau ikut Hussein ke Surau untuk Sholat Sunah Hajat berjamaah. Sholatlah mereka bertiga, Suryalah yang menjadi imamnya. Setelah itu, Hussein begitu kuatnya menahan kantuk hingga jam Setengah 4 pagi, yang disertai/disambi Dzikir-dzikir, Doa serta membaca Al-qur’an secara seksama dan bersama-sama. Disela-sela yang hampir semua selesai atau rampung, Hussein bercerita tentang rasanya Jatuh dalam sihir cinta yang membuat hatinya tentram nan bahagia. Si Indra coba berujar serta bertanya pada Kyai Muda itu alias Hussein, Si Lowo Ireng. “Apakah kakekmu tahu tentang hal ini?..”. Pertanyaan Indra Susena sambil memandang mata Hussein. “Beliau tahu dari mimpiku,disaat aku terlelap dalam tidurku. Sesambilnya aku Mengigau nan senyum nan terona dibibirku ini. Itu kata kakekku..”. Jawab serta ujar Si Hussein kepada Indra serta Surya yang dari tadi terdiam. Lalu, Surya juga ikut bertanya trasa penasaran kepada Hussein;”Apakah wanita yang Nampak difikiranmu itu juga merasakan-kah, seperti apa yang ‘kau inginkan tersebut?..”. Setelah Surya tanya begitu, Hussein terdiam ribuan bahasa yang nampak bimbang, bingung, dan ragu-ragu. “Wahai sahabat yang sudah aku anggap saudaraku sendiri, kenapa engkau tak jawab tuturan serta tanyaku itu?.. Andai jikalau hatimu belum yakin untuk menjawab, tak apalah”. Kata lirih-lirih dari Si Surya, yang tak memaksa Dulhussein untuk menjawab pertanyaannya itu.

Sementara itu, Indrasusena mencoba dengan “Ilmu Tembus Sukma”. Sesambilnya ia ingin membaca hati serta fikiran Dulhussein yang nampak mengganjal didirinya tersebut. Kemudian Si Surya ini nampak kelelahan menunggu rasa penasarannya hilang, serta ingin pergi tidur lagi. Indra nampak trasa yakin, bahwasanya sahabat karibnya itu sedang merasakan manisnya Jatuh terbuai Asmara.Serta Wanita tersebut adalah Penantian terakhir dari Si Dulhussein. Nampaknya…,Surya pun tak bisa tidur lagi. Kemudian ia pun kembali lagi ke Surau/Mushola yang nampak sederhana dekat Ponpes. Dengan suasana tenang nan dingin merasuk tulang, muncullah kata-kata sederhana dari Indra lagi; “jikalau hal tersebut bisa kamu rasakan, kemudian kamu ikhlas serta sama-sama suka, jalanilah secara pandai Lagi sopan”. Itulah kata-kata sahaja/tuturan bijak Indra kepada Kyai Muda berbakat tersebut, yaitu kepada Kyai Lowo Ireng alias Abdul Hussein Sasongko itu…. . Sambil lirih-lirih nan agak Mlongo!..ia mendengarkan kedua temannya, bertuturan sapa antara Hussein dan Indra, yakni Saudara Tegar Surya Pratama (yang nampak terdiam melamun).

Si Surya nampak siap Mengumandangkan Adzan Subuh, di Surau yang nampak begitu sederhana, tetapi cukup sekedar menampung kurang lebih 75-an anak beserta para pembimbing untuk Sholat berjamaah. Setelah Iqomah berakhir, takbir rokaat Pertama serta yang menjadi Imam yaitu/oleh Indrasusena. Hingga tibalah salam, bahwa tanda berakhirnya sholat Subuh 2 rakaat tersebut. Suara Berkokoknya ayam Jagopun telah terdengar disana-sini dan dimana-mana. Namun nampak terasa Ganjil, serta tak nampak seperti biasanya. Yaitu, biasanya setelah Sholat Subuh beserta Dzikir disertai juga Do’a-doa, Tausyah sederhana dari kakek Sasongko-lah yang setiap harinya Terdengar. Tetapi,… hal tersebut hati/benak Kyai Hussein dan Si Indra, yang tak sengaja sama. Secara bersamaan, mulai tak enak. Kemudian Si Surya, mengajak semua para santri untuk menjenguk Guru besar/Ki Sasongko tersebut. Namun, apakah yang terjadi? seterusnya atau selanjutnya?, yaitu ternyata benak dari Hussein, Indra dan Surya jadi kenyataan atau benar adanya. Syekh/Ki/Kakek Sasongko terbujur lemah nan lunglai karena sakit. Surya, Indra serta semua Para Pembimbing dan Santriwan-santriwati Ponpes Al-muksit alias Pondok Pesantren Karunia Ilahi terlebih lagi Hussein cucu kandungnya itu yang nampak Cemas serta gelisah disertai jerit-tetangisan, berlari menuju ke kamarnya Kakek/Guru Besar Sasongko tersebut.
<<<…>>>

Dengan berjalannya sang waktu, menit demi menit kemudian hari demi hari pun Ki/Romo/Syech Abdul Sasongko Puspito layu dalam usianya yang merenta tua. Para Santriwan-Watinya sudah nampak berusaha kesana-kemari, sudah semaksimal mungkin tuk mengobatkan sekaligus terapi dan tak lupa mereka semua akan Do’a terhadap sesepuhnya tersebut. Berbagai hal seperti ramuan2 alami atau pegobatan secara Tradisional pun juga tak berhasil. Menggunakan tenaga dalamdari Indrasusena, Surya, bahkan yang terakhir dari Hussein serta Para Tetua Ponpes pun juga tak membuahkan hasil. Para Santri-santri dan/para cucu2nya itu pun sudah nampak pasrah akan takdir yang dialami beliau tersebut.“Sudahlah anak-anakku, kalian tak perlu bimbang dan berlebihan seperti itu. Apalah arti usaha maksimal, jikalo takdir ingkang Moho Luhur tak memberikan kesembuhan padaku”. Kata sesepuh Ponpes Karunia Ilahi yang sedang terbujur lemah nan lemas di kasur beralaskan kayu.

Ketika malam tiba, sesudah sholat isya’ sekitar pukul 19.30 . Lalu, senggang waktu 9 menit kemudian Kakek Sasongko menyuruh keluar para santri2nya. Tinggal Si Hussein dan Indra saja yang menemani Sesepuhnya. Memanggil Hussein dan Indrasusena tuk mendekat atau merapat sisi kanan dan kirinya beliau. Beliau yang renta termakan usianya itupun memanggil mereka berdua bertujuan mengenalkan 2 Keris Pamungkas Sakti milik beliau, yaitu Pamungkas Setyo Manikdan Pamungkas Dirjo Hanumertak. Kedua benda ajian tersebut tidak hanya sebagai senjata antik, tetapi juga bisa digunakan untuk kearifan, menumpas keangkara-murka dan penjaga setia tuannya. Keris Ajian Pamungkas “setyo manik” digunakan dalam peperangan terdahulu serta menumpas kejahatan, bersinar memancarkan cahaya Kearifan. Setiap orang yang memandangnya yang awalnya jahat, tobat-takluk dihadapan pemilik keris tersebut. Sedangkan “keris pamungkas dirjo hanumertak” ini, memiliki kekuatan melebihi sagala-gala, yang ganas,aneh,mengerikan, serta berbahaya. Yang sesuai dengan julukannya yakni “Asma Petir geni” atau julukan baru bagi pemiliknya. Sekarang ini Ahmad Indra Susena alias Kyai Petir Geni, sudah resmi menjadi pemilik selanjutnya yakni senjata yang berkekuatan dahsyat tersebut. Senjata Pamungkas Dirjo Hanumertak tersebut melambangkan kedikjayaan, kegagahan, dan sifat buruk manusia. Hanya boleh tangan kiri saja yang bisa membuka keris maha dahsyat tersebut yaitu dari tempat Warongko keris tersebut. Kalaupun terlanggar atau dilanggar tangan kanan akan lumpuh secara tiba-tiba alias tangan kanan tak bisa apa-apa. Itulah rentetan kisah, kengerian Keris Sang Petir Geni atau Keris Dirjo Hanumertak.

Sedangkan Keris Ajian Pamungkas Setyo Manik yang diberikan ke Hussein bertolak belakang dengan keris milik Si Indrasusena. Keris ini memiliki sifat sangathalus, mencerminkan kebijaksanaan, jauh dari kata berbahaya dan mencerminkan kesetiaan nan keluhuran. 2 benda pusaka tersebut telah resmi diberikan ke kedua cucu tersayang Ki/Guru besar/Syekh Abdul Sasongko Puspita. Dengan harapan bisa menjaga semua manusia dari keangkara-murkaan di muka bumi ini, terkecuali untuk keris pamungkas Si Indra yang tak bisa dianggap remeh. Kedua bilah Keris tersebut haruslah dijaga dengan hati, bahkan masing-masing nyawa mereka berdua serta tak boleh jatuh kesembarangan orang yang tak bertanggung jawab. Si Indra hanya ditunjukkan/hanya diberikan teka-teki Misterius oleh Guru Besarnya tersebut yaitu; Jalan yang bisa dilalui yakni melalui mimpi/jalan yang menunjukkan ke Gubug Tua disebuah Hutan Belantara. Orang-orang penduduk setempat yakni orang-orang desa Jetayu dan desa arjapura atau terletak timurnya Desa Sumbersari atau terletak ditengah-tengah 3 desa tersebut. Orang-orang yang berada disana atau penduduk sekitar hutan terlarang tersebut sudah hafal akan hal itu. Bernamakan Alas Kinarsih Setra atau orang-orang desa setempat bahwa menyebutnya dengan nama Alas Raja Peni. Yang tak sembarang orang biasa/awam serta takkan bisa temukan. Terkecuali orang-orang terpilih.

Itulah letak rahasia besar tentang kunci/teka-teki/rahasia Keris Dirjo Hanumertak yang dimiliki oleh Indrasusena alias Sang Petir Geni. Kemudian setelah berbincang-bincang dan menceritakan rentetan singkat tentang Pamungkas ajaib nan fenomenal tersebut, Ki/Kakek/Guru Besar Syekh Sasongko mencoba memasukkan Kerisitu ke dalam tubuh Indra dengan tenaga dalam serta penuh kehati-hatian, dan secara mantab/serta dengan kedikjayaannya itu. Ritual aneh itu, lalu berhasil. Serta, tak membuat sakit Si Indra. Tak lupa Si Indra mengingat-ingat amanat dan teka-teki itu. Sebagai Syarat Mutlak dan tak bisa terbantahkan atau Syarat ‘tuk menguasai Keris Maha Digjayanya itu. Tiba-tiba, … Si Indrasusena merasakan hal-hal yang menakjubkan serta aneh diantaranya yakni tubuhnya merasa enteng (ringan), tidak merasakan sakit ketika Indra Menampar Pipinya sendiri. Aneh bin Ajaib dan ia pun tercengang nan terheran sendiri.

Kembali kecerita yakni ke Keris Setyo Manik yang dimiliki oleh Abdul Hussein Sasongko. Memiliki keistimewaan di antaranya adalah begitu dikeluarkan/dicabut dari Warongkonya keris tersebut mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan, namun cahya tersebut menenangkan jiwa serta batin, siapapun yang melihatnya. Cahaya tersebut memang tercipta untuk meminimalisir kejahatan atau kerusuhan, ketamakan duniawi serta kekotoran batin manusia. Namun, yang disayangkan adalah keris Maha Nur-Arifin tersebut tak bisa patahkan atau belum bisa menaklukkan keris kembarannya yakni milik Sang Petir Geni. Entah kenapa itu masih menjadi misteri?… , hingga Sang pemilik pertamanya yakni Syech Abdul Sasongko Puspito tak bisa jelaskan hal aneh tersebut. Keris Setyo Manik hanya bisa meredam bencana dahsyat yang ditimbulkan oleh keris kembarannya tersebut atau tak bisa langsung menghentikan gonjang-ganjing bumi dan hanya bisa meredam bencana agar tak merembet kesegala arah. Keris Setyo Manik hanya satu kelemahannya yakni dengan keris kembarannya yakni Sang Dirjo Hanumertak. Sedangkan Keris Sang petir Geni alias Dirjo Hamangkubumi alias Dirjo Hanumertak, belum bisa dikalahkan atau belum diketahui kelemahannya. Ketika keris tersebut terkena sedikit darah saja akan terus menerus menginginkan darah, hingga keris tersebut dimasukkan/dikembalikan ke Warongko oleh pemiliknya.
<<<…>>>

Itulah letak Rahasia besar yakni 2 bilah keris yang dimiliki oleh Syekh Sasongko. Terlebih lagi, yakni keris Dirjo Hanumertak yang semua rentetannya telah diceritakan oleh Guru Besarnya, yaitu kepada cucu angkatnya, Indrasusena. Lebih menahan emosi serta tak terburu-buru dalam mengambil keputusan tuk keluarkan keris antik tersebut, hanyalah pas waktu kepepet dan terdesak saja. Peraturan atau amanah atau titah tersebut juga berlaku untuk keris Setyo Manik milik Si Hussein.
Guru besar/Ki/Syech Sasongko berujar lagi terhadap kedua anak tersebut; “Bahwa, ketika ingin keluarkan keris antik tersebut dari sarung keris atau dari warongko masing-masing syarat utamanya ialah membaca Basmallah. Serta ketika selesai menggunakan keris tersebut ucapkanlah Hamdallah atau ucapan rasa syukur. Itulah kunci terpenting jikalau ingin mencapai/dalam artian kesempurnaan yang nyata, untuk mengendalikan keris-keris istimewa tersebut”. Tetapi, terkadang ucapan yang dilontarkan secara runtut yakni dari perkataan beliau, hanyalah berlaku pada Keris milik Si Hussein saja, bukan berarti berlaku pada Keris Dirjo Hanumertak yang sekarang milik Indrasusena itu. Kemudian, setelah Guru besar Sasongko berujar serta bercerita tentang senjata rahasianya itu terhadap kedua murid tersayangnya tersebut, secara tiba-tiba pula beliau terasa tak kuat menahan Kekuatannya yang hampir habis. Disertai batuk, dan beliau mengeluarkan darah dari mulutnya……….. .
Kemudian besoknya, menjelang setibanya hampir menjelang sholat isya’, seluruh tubuh Guru Sasongko menyerupai putihnya susu yang sangat pucat-lemas. Sambil berkata lirih serta lembut nan bijaksana, mengamanatkan pada seluruh anak-anak asuhannya tersebut yakni; “Bahwa, semua yang diciptakan oleh Allah Swt. baik itu dilangit maupun dibumi ini akan mati atas Kehendak-Nya, Yang Maha Arif nan Sejati. Lalu janganlah kau atau kalian semuanya beradu karena ketamakan atau kepentingan duniawi yang buatmu celaka serta tak ada guna. Berdamailah pada semua orang, lalu bawa senyuman dimana-mana atau hadirkan keceriaan bagi orang-orang yang ada disekitarmu. Janganlah kalian bermimpi tinggi-tingi dan berlamun-lamun saja alias tuk jadi pemalas, ‘tuk jadi orang terhebat terus-teruslah menggali hal-hal baru, dan bagaimana kalian semua meraihnya dengan kesabaran, ketekunan, saling percaya satu sama lain. Kemudian tak lupa pada usaha Lagi Do’a”. Semua para santriwan-santriwati serta Surya Pratama yang berbadan tegap nan gagah, tinggi-dipah tersebut juga merasakan haru-biru, kesedihan menatap nan meratap, sesambilnya mendengarkan tuturan penuh makna, penuh isyarat kehidupan melalui mulut Kakek Sasongko itu. Terlebih lagi Hussein dan Indra ada didekat/berada dekat samping kanan dan kiri Sang Guru besarnya yang terbujur nan bersender di bahu masing dari cucu-cucunya itu. Tangis yang teramat mendalam… Lalu Beliau berkata lagi; “Janganlah kalian menangis, karna ini sudah Kehendak DariNya. Semua yang hidup didunia ini, yakinlah akan kembali pada Sang Pencipta Lagi Raja Pemilik Cinta serta Kasih atau Malik Al-Wadud…”.
Salah satu santriwati kesayangan dari Kyai Muda Lowo Ireng bernama Aliyah Sulfi, tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Kemudian langsung berlari menuju ke Surau atau Mushola, depan rumah Pak Kades. Ia berdoa memohon kepada Allah Swt. agar mengangkat penyakit yang diderita beliau atau agar keajaiban Tuhan datang. Sesambilnya ia keluarkan air matanya yang polos nan suci itu. “Ya Allah, Pangeran ingkang Moho Kwahos, paringono kasehatan dumateng Romo Kyai Besar kulo. Agar dapat memberikan Ceramah-ceramah terindahnya Yaa Allah!”. Tetapi, kehendak/takdir Dari-Nya berkata lain, dan pada kenyataannya atau akhirnya Sesepuh Ponpes Ds. Sumbersari atau Syech kebanggaan Al-Muksit atau pemilik Pondok Pesantren Karunia Ilahi tersebut menghembuskan nafas terakhirnya……Innalillahi wainnailaihi roji’un. Tutur katanya,nasehat, tausyahnya, serta mengandung hikmah didalamnya, ‘tuk sekarang takkan terdengar lagi oleh Para anak-anak asuhannya atau para Santriwan-Watinya. Allah Swt. pasti sangat sayang kepada beliau, amien.

Beliau telah mengajarkan beberapa kebaikan yakni tutur kata yang sopan, kejujuran, kearifan, sifat amanat, kedisiplinan dls……. . Semua Terdiam, dan menahan Jeritan tangis. Dulhussein dan Indrasusena hanya bisa berpasrah pada Sang Pencipta, mungkin ini adalah jalan terbaik dari Tuhan. Amien. Amanat Terakhir dari Beliau ialah Batu Nisan 2 tanpa nama serta Prosesi Pemakaman tak ingin dimeriahkan atau besar-besaran atau sesederhana mungkin ataualmarhum tidak ingin mewah-megah saat Prosesi Pemakamannya, yakni pada Jasad Almarhum. Beliau memberi amanat lagi atau memilih Sufyan, Hussein, Indra,Surya, Aliyah Sulfi, Ayusaridan Seruning yakni diberikan Titah Terakhir oleh Almarhum atau sebelum Guru Sasongko meninggal. Bahwasanya, mereka ber-7 yang mengawali Sholat Jenazah. Lalu diikuti oleh semua para santriwan-wati dan para penduduk setempat. Setelah amanah tersebut dilaksanakan lalu dengan bergulirnya waktu dan setelah semua selesai prosesi perawatan jenazah, kemudian tibalah pemberangkatan jenazah ke tempat pemakaman atau dekat Ds. Sumbersari, paling ujung selatan. Subhanallah Walhamdulillah Walailahailallah huallah huakbar!… muncullah, tebaran-tebaran Wewangian yang sangat menusuk hidung, tapi buat hati tenang ketika dihirup aroma tersebut. Bagai aneka-macam bunga yang bertebaran di tempat pemakan tersebut. Sungguh aneh tapi terasa nyata, Subhanallah! Maha suci Allah dengan segala macam keajaiban-Nya. Kehidupannya dahulu beliau telah menebar pesan-pesan yang makrifat, lalu meninggalnya pun membawa kesan-kesan yang positif pula. Sungguh Maha Besar Allah, dengan segala keajaiban-Nya.
<<<…>>>

Setelah 8 hari berlalu setelah Almarhum Kekek Sasongko meninggal. Indra Susena baru teringat akan amanat dari Almarhum Ki Sasongko yaitu diperintahkan ‘tuk pergi merantau serta mencari Hutan yang bernama Alas Kinarsih Seta alias Alas Raja Peni. Langsung saja tanpa basa-basi Si Indra Susena pergi dan hal itu tanpa pamit kepada Kyai Muda Hussein. Nama hutan/Alas tersebut terasa asing dan aneh. Indra bertanya pada orang-orang sekitar serta Padukuhan setempat, terus-menerus ia mencari dan terus-terusan mencari, sampai ia lelah. Ada yang bilang tahu serta, kadang ada salah satu penduduk lari ketakutan karena tegang serta mendengar nama tentang Alas tersebut. Keyakinan Indra hampir padam, pupus, sedikit agak rasa menyerah dan pada akhirnya ia pun berpasrah pada Sang Kuasa. Lalu Si Indra terlelap tidur dipohon Mahoni yang sangat besar, tanpa pikir2 panjang ia (Indra Susena) langsung saja bersender, serta terlelaplah ia. Sambil ia bermimpi, bertemu dengan sesosok wanita yang cantik paparannya Bak Bidadari yang Aduhai serta berselendang putih. Berlenggak-lenggok menari-nari dengan Gemulai dan nampak memancarkan pesona daya pikat yang eksotis. Sedang berputar nan mengelilingi Si Indra. Lalu Indra Susena bertanya dan terus bertanya. “Hey siapa kau?…”. Kemudian Wanita itu pun menghilang entah kemana. Setelah itu, Si Indra terbangun dari mimpi singkatnya tersebut.

Secara tekejut Indra melihat kejadian-kejadian yang tak bisa dimasukkan akal sehat atau melihat hutan belantara yang sangat luas nan lebat. Serta lebih mengejutkannya lagi dan lagi yaitu sangat terjaga kebersihannya. Indra berjalan setapak demi setapak, terasa penasaran dan nampak linglung atau ia pun bengong melihat hutan belantara yang ditumbuhi pepohonan jati dan mahoni yang rindang, bunga anggrek, mawar serta yang lainnya menimbulkan aromanya yang semerbak nan wangi. Terasa tidak angker atau singit yang dibilang oleh kebanyakan orang atau mitos tersebut telah dipatahkan oleh Indra sendiri. Dibenak Indra, berkata ; “Mungkin ini yang dimaksud oleh Almarhum Kakek”. Setelah ia lama melamun dikesendiriannya secara mengejutkan, dikagetkan oleh kedatangan yang Paparannya seperti Resi/Pandhita Tua, disertai samping kirinya ada Wanita cantik seperti dimimpinya tadi. Dengan wibawanya beliau langsung bertanya kepada Indra Susena. “Mohon maaf Raden, apakah engkau yang bernama Ahmad Indra Susena, dan apakah betul kamu Pemilik ke-2 Keris Dirjo Hanumertak yaitu amanat terakhir dari Ki Sasongko?…”. Tutur Pendhita Bersahaja itu secara lirih nan secara tiba-tiba. Lalu Pemuda itupun berkata; “Iya betul..”. Sesambilnya ia agak terkejut nan terheran serta membelakkan matanya. Si Wanita yang mirip dengan sesosok Bidadari itu, yang manis serta cantik itu selalu tersenyum. Ketika atau pada saat tersipu-malu melihat ketampanan Si Indra, entah kenapa itu bisa terjadi berulang kali.

Pendekar Ahmadin atau Indra Susena alias Sang Petir Geni ini, bercerita banyak hal yaitu tentang kehidupannya pribadi, serta bercerita juga ia tentang saudara angkatnya yaitu Kyai Muda Lowo Ireng. Ia juga Berkisah tentang pengalaman yang sangat berarti yakni dengan Almarhum Ki Sasongko, yang sosoknya terkenang sepanjang masa itu. Setelah sang Pendito mendengar rentetan cerita Sang Petir Geni atau Ahmadin/Indra, lalu beliau Sang Pendhito mencoba mengeluarkan Keris Dirjo Hanumerto dari tubuh Pemuda tersebut. Sesudah keris tersebut dikeluarkan, beliau beserta Ahmadin keluar dari Gubug Tua itu. Beliau berkonsentrasi penuh untuk mengeluarkan Dirjo Hanumertak dari Warongkonya, dan dengan atau menggunakan tangan kirinya. Tiba-tiba langit yang asalnya bertaburan bintang bercahaya kerlap-kerlip, mendadak menjadi awan tebal menghitam, yang disertai mengeliatnya petir. Angin yang asalnya Sepoi-sepoi, mulai terasa bagaikan terpa’an badai. Tanah terasa bergeser kesana-kemari. Bak menandakan Bumi akan segera hancur alias gempa bumi yang dahsyat. Tetapi, Pendhita setengah tua itu terasa atau ia merasakan biasa saja. Tak ada rasa kecemasan serta takut, yang terlihat dari mukanya ialah ketenangan. Aneh bin Ajaibnya lagi yakni ketika keris itu ditancapkan ke sebuah batu yang amat-teramat besar sekali yakni beberapa meter dekat Gubugnya itu, lalu terbelah-lah batu serta terbentuknya sebuah pintu. Setelah itu, bencana dadakan tersebut berhenti serta guncangan hebat tersebut Hilang-Sirna. Belahan Batu Besar itu, memperlihatkan sebuah Gua, yang didalamnya ada anak tangga menurun atau ruangan rahasia tersebut berada dibawah tanah. Yang sunyi dan gelap tiada cahaya.
<<<…>>>
Pendhito tua itu mengeluarkan tenaga dalamnya melalui kedua tangannya melalui kedua tangannya, yang secara ajaib mengeluarkan sinar berwarna kuning keemasan dari kedua tangannya tersebut. Lalu, beliau menghempaskan tenaga dalamnya tersebut kearah samping kanan dan kiri, secara ajaib pula menyala-lah obor yang menerangi gua yang sangat luas itu. Api obor-obor tersebut menunjukkan dan memberikan isyarat-isyarat penuh makna. Yaitu bertuliskannya Aksara jawa yang indah nan takjubkan mata. Dengan penuh kehati-hatian Beliau memecahkan berbagai misteri lagi untuk membuka pintu kedua Gua tersebut. Ia bagai membaca Mantra yang Digendingkan olehnya, terasa merindingnya bulu kuduk Si Indra beserta Gadis berselendang putih itu. Dengan melakukan nyanyian jawa tersebut bertujuan membuka pintu kedua dari gua bawah tanah tersebut. Lalu terbukalah pintu kedua gua tersebut secara perlahan-lahan. Didalam gua kedua tersebut, ada gambar/ukiran2 berbentuk manusia yang sedang melakukan/bergambarkan gerakan-gerakan silat, serta ditempat tersebut ada sebuah buku kuno bertuliskan aksara jawayang terasa asing bagi benak Si Indra. Yaitu sebagai syarat sebelum membuka atau Pengusaan Secara Ahli Keris Dirjo Hanumertak alias Pamungkas Sang Petir Geni…. .
Hari demi Hari latihan dan dari waktu ke waktu bergulir, telah dijalani oleh Indra bersama Sang Guru Pendito/guru barunya tersebut. Tatkala sore yang akan menjelang malam. Si Indra Mempelajari secara berurut serta tekun, penuh dengan kesabaran. Lalu hampir setengah hari-an ia latihan fisik atau secara rutin ia menggerakkan tubuhnya agar ia pun meresapi “apa maksud isi Kitab Kuno” tersebut. Memang Rumit dan butuh Ekstra tahunan, tetapi Indra mempelajari hanya dengan 39 hari yaitu latihan Gerakan jurus Silat, ‘tuk syarat mutlak menguasai Keris yang Amat berbahaya tersebut. Di hari dimana ia sudah mumpuni, ia bersabar serta tekun dalam menjalani hal2 tersebut, dengan disela-sela latihan tersebut harus berpuasa atau tirakatan selama 40 hari. Si Indra tahu Kesimpulan Buku yang didapat dari Sang Guru tersebut yaitu {Kitab Ajian Kuasa Sang Petir Geni Dirjo Hanumerto}. Isi Kesimpulan Kitab/buku tersebut ialah:
a) Pembukaan keris dari warongkonya dengan bacaan Basmallah serta dengan menggunakan tangan kiri
b) Tinggal suasana hati sang Pemilik, jikalau tergoncang/lagi tertekannya batin Sang Keris tersebut akan berbahaya atau bisa membahayakan orang-orang yang berada di sekitarnya, ketika Keris tersebut keluar dari Warongkonya
c) Keris Petir Geni/Dirjo Hanumertak ini, akan minta darah terus-menerus. Sesampainya keris tersebut dimasukkan ke dalam Sarung atau Warongkonya
d) Setelah itu, Sang Pemilik melaksanakan tugas dengan Keris Maha Sakti tersebut dan memasukkan keris tersebut yaitu menggunakan tangan kanan
e) Membaca Hamdallah setelah selesai Mempergunakannya.
f) Sang Pemilik (Ahmad Indra Susena), sebelum memiliki secara utuh haruslah mau memberikan darahnya yaitu Darah dari Jari Manis Sebelah kiri/tangannya. Kemudian Ritual Mengerikan tersebut agar menyatu antara pemilik dengan Keris Pamungkas tersebut.

Setelah Petuah-Petuah/hal-hal mengerikan tersebut dilaksanakan oleh Indra beserta Gurunya itu, ia (Indra Susena) ini bisa sekejab menguasai Keris yang Mengerikan tersebut tanpa membuat gonjang-ganjing bumi.

Sang Pendhito Tua ini bernama Puspito Ageng Sastro Wijaya, beserta Bidadari Cantik berselendang Putih yang selalu temani Indra Suseno berlatih yaitu bernama Zahra Wulandari Sri Widyaningsih. Si Indra ini rupa-rupanya baru mengenal Guru barunya, beserta wanita cantik tersebut setelah genap 40 hari lamanya. Semenjak Dirjo Hanumertak dapat dikuasai secara menyeluruh olehnya (Ahmad Indra Susena). Sebelumnya ia memanggil Guru Ageng dengan sebutan Nama Pendhito Ageng, lalu memanggil Wanita Cantik yang selalu temani Indra yaitu dengan sebutan nama Selendang Putih.

Dengan bimbingan atau melatih Indra Susena, Pendhita Ageng dengan ketulusan hatinya dapat memberikan panutan-panutan yang positif. Hingga suatu ketika beliau berkata dengan tutur kata Bijaksana ; “Dengan kesabaran ‘tuk meraih harapan ke depan, perlu hadapi tantangan serta kemungkinan-kemungkinan. Resiko/masalah yang timbul setelahnya janganlah engkau jauhi, tetapi engkau harus selesaikan dengan dewasa atau janganlah anggap semua permasalahan itu enteng. Dengan ketekunan serta ketegaran dan kepercayaan diri yang penuh. Bukan dari nafsu duniawi yang negatif saja, tetapi engkau harus bisa menahan hasratnya keinginan yang nanti bisa meracuni akal serta hatimu. Supaya ‘tak menjadi penghalang serta tidak ditiru oleh anak serta cucu-cucumu, kelak”. Itulah pitutur/pesan bermakna positif dari Pendhita Puspito Ageng Sastro Wijaya kepada Ahmad Indra Suseno.

Ahmadin Suseno terasa kangen atau ingin pulang, sesambilnya ia merenung.“Bagaimana caranya aku pulang ke Pondokku,serta bagaimana caranya keluar dari Alas kinarsih Seta ini…?”. Dalam benaknya ia bertanya-tanya… . Pada pagi hari, sekitar pukul 4.30 Indra Susena terbangun untuk melakukan kegiatan Fardhunya yakni Sholat Subuh atau sedang akan mempersiapkan sholat wajib. Setelah selesai lakukan hal tersebut, ia melakukan pelemasan tubuhnya/pemanasan agar ia tak cidera tulang. Sambil lakukan gerakan-gerakan silat sederhana, atau sekedar mengeluarkan keringat di pagi hari.
Zahra terbangun, mendengar hembusan-hembusan nafas Si Indra, wanita cantik itu pun tanpa basa-basi langsung ikut menjajal jurus/gerakan sederhana Si Indra tersebut. Zahra akhirnya terjatuh, tetapi Si Indra tak kuasa melihat Wanita jatuh terselungkur ditanah. Kemudian, Indra Susena menangkap langsung dengan tatapan penuh dengan pesona. Mereka berdua serempak tersenyum Bak seorang Pangeran mendapatkan Sang Putri. Tiba-tiba perasaan naksir pun ada diduanya. Padahal Si Indra yang asalnya biasa-biasa saja alias tak ada perasaan, sekarang Indra mulai membuka hatinya untuk wanita secantik Zahra. Mungkin ini yang dimaksud dengan cinta atau Paribasan“Witing Tresno iku Jalaran soko Kulino”. Sungguh indah rasa itu dan bermakna, sekaligus sungguh beruntungnya Indra dapatkan wanita Secantik Zahra. Alhasil asmara mereka berdua diketahui oleh Ki Ageng/Guru Puspito Ageng. Setelah itu selang 30-45 menit kemudian, Gurunya tersebut merestui hubungan asmara mereka berdua. Kemudian pada keesokkan harinya atau pada pagi buta, Si Indra sudah mantab untuk pulang ke Pondoknya. Sebelum itu, ia berpamitan kepada Guru Ageng. Beliau juga mengijinkan Putri Cantiknya untuk dibawa Indra Susena. Lalu, mereka berdua yaitu Indra dan Zahra segera berpamitan kepada Pendhito Puspito Ageng. Lalu mereka berdua langsung berpamitan pergi, yakni dimana mereka berdua pertama kalinya bertemu 50 hari yang lalu… .

Mereka berdua berjalan ditemani langit yang masih agak gelap, dan sinaran Sang Mentari tertutupi oleh kabut tebal di Ufuk Timur. Didepan mereka berdua, tiba-tiba ada kabut gelap mengitari Indra dan Zahra. Mereka Yang teramat-sangat bingung, dan terasa agak aneh. “Mengapa kabut yang gelap ini bisa mendadak datang..? serta mendekati kita secara tiba-tiba?..”. Indra Kaget dan trasa tak percaya akan hal tersebut. Zahra pun juga sebelumnya sudah tahu jikalau siapapun yang datang ke Gubug Tuanya itu, kalaupun ingin pulang pasti akan tersesat atau siapapun itu akan terjebak Kabut Hitam. Si Zahra tahu akan kunci ‘tuk menuju jalan keluar dari masalah pelik itu. Gulungan besar yang menghitam tersebut Bagai perlahan-lahan yang hampir menghimpit Zahra dan Indra. Tetapi apa yang terjadi?. . ., Gulungan hitam/kabut hitam misterius itu, bagaikan melalap/menyedot mereka berdua . Dikarenakan kurangnya cekatan Zahra mengeluarkan Ajian Kunci Sinuwun. Angin besarpun datang dikarenakan mereka berdua kurang adanya cekatan. Terbawalah mereka berdua, lalu berputar-putarlah mereka berdua ke lubang hitam yang disertai pula dengan angin yang amat-sangat kencang.

Secara tiba-tiba pula, Indra dan Zahra terbangun dalam buaian, bagai mimpi yang panjang. Serta, penuh dengan teka-teki misterius, dan penuh makna. Mereka berdua terbangun, dibawah Pohon Mahoni Besar. Bagaikan mimpi serta tak bisa dimasukkan akal sehat. Ditangan kiri Indra memegang Keris Pamungkas Dirjo Hanumertak, dan disebelah kanannya ada wanita cantik yaitu Zahra Wulandari Sri Widyaningsih. Si indra telah mendapatkan petuah-petuah ajaib/ pesan-pesan terindah dari Guru Puspito Ageng Sastro Wijaya dan pengalaman spiritual, disertai amanah yang bermakna ribuan dari Almarhum Ki/Syech Sasongko dahulu atau ketika beliau masih hidup dahulu. Kemudian setelah ia sadar sepenuhnya, ia kaget serta terasa tak percaya bahwa di depannya itu adalah Tidak Hutan Belantara atau Alas Raja Peni atau Alas Kinarsih Seto, melainkan Sawah yakni padi Hijauyang Membentang Luas. Si Zahra juga merasakan hal yang sama… .
Dipagi yang cerah serta akan menjelang siang hari, Zahra nampak begitu kagum akan keindahan dunia yang sebenarnya. Mungkin ini pertama kalinya wanita cantik nan manis serta lugu ini, kurang adanya pergaulan antar sebayanya, sehingga ia langsung berlari meninggalkan Indra dengan ilmu meringankan tubuh (Saking Ngebetnya) ingin merasakan lebih menikmati dunia luar yang sesungguhnya. Selama ini ia hidup sebatang-kara(tiada orang tua kandung) atau hanya hidup dengan kakek tua. Sebelumnya ia tak pernah merasakan dunia luar yang indah, elok nan permai. Sungguh damainya hati wanita itu, dan sementara itu Si Indra hanya tersenyum-diam serta ia juga ikut merasakannya melihat Si Zahra berlari kesana-kemari. Menikmati kesejukan, damai, kepenatan fikiran terasa hilang sirna. Sawah-sawah yang terbentang luas, gemercik air yang terdengar menenangkan hati, pepohonan yang bergerak karena hembusan angin yang sepoi-sepoi dan saat itu Si Zahra tersenyum melambai-lambaikan tangan kepada Si Indra, berlari-lari kecil di iringi oleh angin yang lirihkan perasaan. Setelah waktu berselang lama, Zahra menyuruh Indra Susena untuk merahasiakan Alas Kinarsih Seta dari siapapun, terkecuali bagi/pada orang terdekatnya/yang mampu mengemban amanat. Si Indra pun paham akan hal itu. Setelah Si Zahra Capek atau kelelahan menikmati dunia luaryang sangat menarik nan luar biasa. Si Indra yang dari tadi memegang Keris Pamungkasnya, ia pun mencoba ‘tuk memasukkan keris tersebut ke lengan kirinya denganhembusan tenaga dalamdan ia pun berhasil melakukan hal tersebut. Subhanallah!..sungguh mengerikan sekali keris tersebut, hanya dengan perintah tuannya saja keris itu bisa melalap habis semua musuh-musuhnya, dan keris tersebut hanya boleh digunakan waktu terdesak saja. Dan,kemudian Si Zahra hanya bisa melihat Indra dengan tatapan tercantiknya.

Si Indra Langsung mengajak Zahra untuk langsung pergi ke Pondok Karunia Ilahi atau Ponpes Al-muksit yang berada Di Desa Sumbersari. Tak jauh dari situ, hanya sekitar 30 menit jalan kaki sudah sampai. Hampir kurang lebih 4 setengah bulan ia tinggalkan Pondoknya, tanpa pamit. Indra nampak seperti Kyai Kondang, dikarenakan Jubah, Pakaian Tebal serta sorban yang ia kenakan adalah milik Almarhum Kakeknya terdahulu. Semua orang tercengang serta kaget dan hampir tak percaya yang datang itu adalah Ahmad Indra Susena, sambil menggandeng Wanita berseledang putih nan cantik-jelita di sebelah kanannya. Nampak secara gamblang, ia seperti Guru Besar/Almarhum Kakek Angkatnya terdahulu yaitu Almarhum Syekh Abdul Sasongko Puspito. Lalu setelah itu, Para Santriwan-Wati pun terpana serta tak mengedipkan mata… . Assalamu’alaikum Wr.wb,..”. Beberapa kali Indra mengucapkan Salam tetapi tak ada yang menyahuti sampai-sampai 4 kali ia ucapkan salam tersebut. Dan ternyata baru ada yang menyahut salamnya tersebut, yaitu saudara angkat yang tak lama tak dijumpainya selama 46 hari lebih. Yaitu dengan menjawab: Wa’alaikumussalam wr.wb.”. Jawaban dari Kyai muda Hussein. Ia juga hampir tak percaya, yang dijumpainya itu adalah saudara angkatnya yakni Ahmad Indra Susena. Bersapa candalah mereka berdua dan berpelukan satu sama lain, serta Indra tak lupa memperkenalkan wanita disamping Kanannya itu. Hussein lalu membangunkan lamunan para Murid-muridnya dengan 3x tepukan tangannya, yang dari tadi takjub menatap bibik secantik Zahra, serta Indra Susena yang hampir mirip dengan Almarhum Ki/Syekh Sasongko Puspito, dulu ……………… .

Kembali pada wanita anggun, cantik, serta manis dan penuh sensasi yang bernama Zahra Wulandari Widyaningsih. Dari kecil hingga ia dewasa, wanita ini dirawat oleh Pendito Ageng. Ternyata Si Zahra ini adalah anak angkat dari pendita. Dan nama Zahra diberikan oleh Almarhum Syekh Sasongko, yakni sahabat karib Pendhito Agung. Pendhita Agung menemukannya dipinggiran sungai yang menjadi perbatasan Desa Jati Kembar dengan Desa Sumber Sari. Dan pada saat itu, sungai tersebut berarus deras. Untunglah Sang Welas Asih tak menakdirkan bayi suci nan polos tersebut tersapu oleh derasnya arus sungai. Lalu beliau mengambil bayi tersebut ke rumahnya yang berada dihutan terlarang bernama Alas Kinarsih Seto, hingga bayi tersebut tumbuh menjadi wanita yang mandiri. Memang dari kecil Zahra telah diasuh oleh Pendhita yang sudah menganut agama Hindu………. .

Kemudian ia tak sengaja mendengarkan santriwati yang membaca Al-Qur’an. Dan santriwati itu bernama lengkap Azizah Nur Anggraini. Ketika dia tak sengaja mendengarkan suara santriawati tersebut, ia tiba-tiba terharu lalu keluarlah air matanya. Bacaannya begitu fasih dan membuat hati gadis itu (Zahra) terenyuh. Ketika dia mendengarkan ayat terakhir yang dibacakan santriwati tersebut yaitu Q.S. Al Qalam ayat ke-34 hingga ke-52 yang berarti:
1. Orang-orang yang bertaq’wa, akan disediakan surga-surga yang penuh dengan kenikmatan
2. Beberapa keputusan diantara banyak pilihan atau bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat
3. Hukum/serta ketetapan-ketetapan Allah pada hari penghakiman kelak yaitudicampakannya orang-orang yang lalai ke tanah tandus dalam keadaan tercela
4. Orang-orang kafir/kelahiran mereka yang menggelincirkan kamu (manusia) yang lain. Dan orang-orang kafir tersebut menyatakan Nabi Muhammad SAW benar-benar gila, dan dosa-dosa orang kafir yang tidak tahu apa-apa itu adalah termasuk menggelincirkan fikiran-fikiran serta lalai dari ajaran Allah SWT
5. Dan bahwasannya Al-Qur’an atau firman-firman Allah itu tidak lain yakni memberikan peringatan-peringatan bagi seluruh umat manusia.

Itulah lima hal yang penting dari surat Al-Qalam (KALAM) ayat 34 hingga akhir ayat yang dijelaskan Indra Susena kepada Zahra. Kesimpulan yang lain dari 19 ayat diatas yakni: Pertama, Nabi Muhammad Saw bukanlah orang yang gila melainkan manusia berbudi pekerti yang agung. Kedua, Larangan bertoleransi di bidang kepercayaan.Ketiga,Larangan mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang dicela Allah swt. Keempat, Nasib dari manusia yang ingkar akan dicampakkan ke tanah tandus (siksaan) dalam keadaan tercela nan hina. Dan Kelima, yakni Al-Qur’an adalah peringatan bagi seluruh umat.Azizah adalah salah satu murid kesayangan dari Indra Susena dan dia salah satu santriwati yang berprestasi di Pondok Pesantren Al-Muksit. Dengan hati yang bersungguh-sungguh serta dengan bimbingan dari temannya Azizah serta para santriwati yang lain, akhirnya Zahra ingin masuk agama islam. Zahra menangis mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Azizah serta penjelasan dari Kyai Petir Geni tentangpoin-poin ataudari penjelasan tambahan ayat34 hingga 52 tersebut. Dengan mantap ia ingin masuk agama islam yakni karna hatinya sendiriatau tanpa paksaan orang lain atau datang karena kemurnian hati Zahra pribadi. Dengan membaca dua kalimat syahadat dan meskipun dengan mengucapkannya terbata-bata, Alhamdulillah Zahra sudah masuk Islam. Dan dia juga berganti nama menjadi Siti Az-Zahra Sri Wulaningtyas.
Pada tanggal 29 Sya’ban tepat 1000 hari sepininggalan Syekh Abdul Sasongko Puspito, Murid-murid serta pembimbing senior terbaik dan terpilih Almarhum yakni Indra Susena, Abdul Hussein dan Surya, beserta pembimbing-pembimbing lainnya yakni untuk persiapan acara istighotsah dan tahlil untuk Almarhum Ki/Guru Besar/Syekh Abdul Sasongko agar diberikan kelapangan kubur, terang kubur dan arwahnya selalu berada di sisi Allah SWT, amien. Para Orang-orang penting setempat yakni tamu terhormat kerajaan juga datang untuk acara Istighotsah serta Tahlil tersebut. Semisal, Raja Banu Aryo Birawa penguasa kerajaan Buwana Moja Luhur, Para Demang dan para pejabat kadipaten. Semua berdo’a dalam acara tersebut. Meskipun acaranya sederhana, yang datang melebihi tempat yang disediakan, sampai-sampai rumah Ki Demang Danu Adji sendiri digunakan untuk acara tahlilan tersebut.

Selesai…

Mulai tanggal: 04 September 2013 (RABU)

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

About Avenged sevenfold?

Original Wikipedia article: http://en.wikipedia.org/wiki/Avenged Sevenfold

Image

Avenged Sevenfold is an American rock band from Huntington Beach, California, formed in 1999. The band has achieved mainstream success with their 2005 album City of Evil, which included singles such as “Burn It Down”, “Bat Country,” “Beast and the Harlot” and “Seize the Day.” The band’s success followed with their self-titled album, with singles such as “Critical Acclaim”, “Almost Easy”, “Afterlife”, “Scream” and “Dear God”.

 

Band history

Inception (1999-2004)

The band was formed in 1999 in Huntington Beach, California with original members M Shadows, Zacky Vengeance, The Rev and Matt Wendt. M Shadows came up with the name as a reference to the story of Cain and Abel from The Bible, although it is not a religious band. Upon its formation, each member of the band also took on a pseudonym which were already nicknames of theirs from high school. Before release their debut album, the band recorded two demos in 1999 and 2000. Avenged Sevenfold’s debut album, Sounding the Seventh Trumpet, was recorded when the band members were just eighteen years old and in high school. It was originally released on their first label, Good Life Recordings in 2001. After lead guitarist Synyster Gates joined the band,at the end of 1999 when he was 18 at the introductory track “To End the Rapture” was re-recorded featuring a full band element. The album was subsequently re-released on Hopeless Records in 2002.

 

The band started to receive recognition, performing with bands such as Mushroomhead and Shadows Fall and playing on the Take Action Tour. Having settled on their fourth bassist, Johnny Christ, they released Waking the Fallen on Hopeless Records in August 2003. The band received profiles in Billboard and The Boston Globe, and played in the Vans Warped Tour. In 2004, Avenged Sevenfold toured again on the Vans Warped Tour and recorded a video for their song “Unholy Confessions” which went into rotation on MTV2’s Headbanger’s Ball. Shortly after the release of Waking the Fallen, Avenged Sevenfold left Hopeless Records and were signed to Warner Bros. Records.

City of Evil (2005?2007)

City of Evil, the band’s third album and major label debut, was released on June 7, 2005 and debuted at #30 on the Billboard 200 chart, selling over 30,000 copies in its first week of release. It utilized a more epic, classic metal sound than Avenged Sevenfold’s previous albums, which had been grouped into Image. The album is also notable for the absence of screaming vocals; M. Shadows worked with vocal coach Ron Anderson?whose clients have included Axl Rose and Chris Cornell?for months before the album’s release to achieve a sound that had “grit while still having the tone”.

 

They returned to the Vans Warped Tour, this time headlining and then continued on their own “Cities of Evil Tour.” In addition, their lead single “Bat Country” reached #2 on Billboard’s Mainstream Rock Charts, #6 on Billboard’s Modern Rock Charts and the accompanying video made it to #1 on MTV’s Total Request Live. Propelled by this success, the album sold well and became Avenged Sevenfold’s first gold record. They would go onto win “Best New Artist” at MTV’s Video Music Awards, beating out artists like Rihanna, Panic at the Disco and Chris Brown.

Self-titled album (2007-2008)

Avenged Sevenfold’s mainstream success got them an invitation to 2006’s Ozzfest tour on the main stage, alongside other well known hard rock and heavy metal acts DragonForce, Lacuna Coil, Hatebreed, Disturbed and System of a Down. That same year they also completed a worldwide tour, including the US, The United Kingdom (as well as mainland Europe), Japan, Australia and New Zealand. After being on tour for sixteen months in promotion of City of Evil, the band announced that they were cancelling their Fall 2006 tour in favor of recording new music. M. Shadows stated that their fourth studio album?which the band self-titled and self-produced?would not be a “City of Evil Part 2” or “Waking the Fallen Part 2,” but would incorporate a new, grittier sound. To tide the fans over in between albums, the band released their first DVD titled All Excess on July 17, 2007. All Excess, which debuted as the #1 DVD in the USA, included live performances and backstage footage that spanned the band’s eight year career. Two tribute albums, Strung Out on Avenged Sevenfold: Bat Wings and Broken Strings and Strung Out on Avenged Sevenfold: The String Tribute were also released in October 2007.

 

Avenged Sevenfold, the band’s fourth album, was released on October 30, 2007, debuting at #4 on the Billboard 200 with over 90,000 copies sold. Two singles, “Critical Acclaim” and “Almost Easy” were released prior to the album’s debut. In December 2007, an animated video was made for “A Little Piece of Heaven.” Due to the song’s controversial subject matter, however, Warner Brothers only released it to registered MVI users over the internet. The third single, “Afterlife” and its video was released in January 2008. Their fourth single, “Dear God”, was released on September 30, 2008. The self-titled album went onto sell over 500,000 copies and was awarded “Album of the Year” at the Kerrang! Awards.

Live in the LBC & Diamonds in the Rough (2008?2009)

Avenged Sevenfold headlined the 2008 Taste of Chaos tour with Atreyu, Bullet for My Valentine, Blessthefall and Idiot Pilot. They used the footage from their last show in Long Beach for Live in the LBC & Diamonds in the Rough, a two-disc B-sides CD and live DVD which was released on September 16, 2008. They also recorded numerous covers, including Pantera’s “Walk,” Iron Maiden’s “Flash of the Blade” and Black Sabbath’s “Paranoid” (the first two of which were included on “Live in the LBC & Diamonds in the Rough”). They will also be releasing a Guitar Tutorial DVD, which include the five tracks, Afterlife, Almost Easy, Bat Country, Beast and the Harlot and Trashed And Scattered, breaking down the guitar solos and riffs in each song.

 

During a sold-out festival performance in Leeds and Reading, the band were forced to shorten their Leeds performance and cancel their Reading performance due to a vocal strain sustained by M. Shadows. A few days later, the band was forced to announce the cancellation of the remaining September shows, with the tour set to resume again on October 15.

New album (2009 onward)
This section may need to be updated. Please update this section to reflect recent events or newly available information, and remove this template when finished. Please see the talk page for more information. (August 2009)

In January 2009, M. Shadows confirmed that the band is writing the follow-up to their self-titled fourth album within the upcoming months. They also announced that they will be playing at Rock on the Range, from May 16-17, 2009. In April 16, they performed a version of Guns N’ Roses’ “It’s So Easy” onstage with Slash, at the Nokia Theater in Los Angeles. M. Shadows has also been confirmed to be a featured vocalist on Slash’s forthcoming solo album Slash & Friends.

 

M. Shadows and the rest of the band has expressed interest in making a follow-up to Avenged Sevenfold. They plan to start writing in June 2009 and recording in October 2009. M. Shadows also said in an interview with Loveline that the next record would be a more classic metal, more rock-oriented record, since the self-titled record was very experimental. He also said it would feature more progressive, longer songs and would be the “biggest Avenged Sevenfold record ever.” Additionally, he said they were possibly thinking about a concept record.

 

On July 15, 2009, their website and MySpace page updated with a statement from Shadows implying that work on this next album has started, but they are still “throwing around ideas”. This update was on the same day that Waking the Fallen went Gold.

 

In an interview, vocalist M. Shadows has revealed that after the band will complete their tour with a final performance at the Sonisphere Festival on August 2, they will get in the studio to write and record a new studio album, a follow-up to their self-titled album.

 

Musical characteristics

This section may contain original research or unverified claims. Please improve the article by adding references. See the talk page for details. (August 2009)
Genre

In general, Avenged Sevenfold is classified as an important and influential band in the New Wave of American Heavy Metal. Their material spans multiple genres and has evolved over the band’s ten year career. Initially, Avenged Sevenfold’s debut Sounding the Seventh Trumpet consisted almost entirely of metalcore sound; however, there were several deviations to this genre, most notably in “Streets” which adopts a punk style and “Warmness on the Soul,” which is a piano-oriented ballad. On Waking The Fallen, the band displayed a more refined and fluent metalcore album that was able to harness the rawness of the first album and add more mature and intricate musical elements. In the band’s DVD All Excess, producer Andrew Mudrock explained this transition: “When I met the band after Sounding the Seventh Trumpet had come out before they had recorded Waking the Fallen, M. Shadows said to me ‘This record is screaming. The record we want to make is going to be half-screaming half-singing. I don’t want to scream anymore. And the record after that is going to be all singing.'” On City of Evil, Avenged Sevenfold’s third album, the band chose to abandon the metalcore genre, developing a more punk metal/thrash style. Also, the drumming on both these albums is played in a more thrash-influenced alternative metal style. Avenged Sevenfold’s self-titled album, again, consists of several deviations to less consistent genres and styles from the album’s main hard rock and heavy metal songs, most notably in “Dear God”, which adopts a country style and “A Little Piece of Heaven”, which includes elements of Broadway show tunes, using primarily brass instruments and stringed orchestra to take over most of the role of the lead and rhythm guitar. The band has changed considerably since its first album, which since then they have been characterized as a heavy band with screams and growls combined with clean vocals that one can expect from the metalcore genre.

Band name and lyrical content

The band’s name is a reference to the Book of Genesis in the Bible – specifically Genesis 4:24, where Cain is sentenced to life in exile for murdering his brother. God marked him so that none would kill him on account of his sin; the man who dared to kill Cain would suffer “vengeance seven times over” (KJV). The abbreviation “A7X” for their band name was the idea of guitarist Zacky Vengeance. The title of Avenged Sevenfold’s song “Chapter Four” refers to the fourth chapter of Genesis, in which the story of Cain and Abel takes place. The song’s subject also appears to be this story. “Beast and the Harlot”, yet another song derived from the Bible, comes from the Book of Revelation only it is written in the first person and refers to the punishment of Babylon the Great, world empire and seat of false religion. Another biblical reference occurs in the song “The Wicked End”. In this song, several times it is said “dust the apple off, savor each bite, and deep inside you know Adam was right.” making reference to Eve eating the forbidden fruit. Although the band’s title and members’ stage names make references to religion, Shadows stated in an interview that they are not a religious band. “Anyone that reads the lyrics and really knew anything about us, they would know we’re not promoting either,” he said. “That’s one thing about this band that I love is that we never really shove any kind of, like, political or religious beliefs on people. We just, the music’s there to entertain and maybe thought-provoking on both sides, but we don’t try to, like, really shove anything down anyone’s throat. There’s too many bands that do that nowadays, I think.” The band has a few songs that are somewhat political in nature like “Critical Acclaim”, “Gunslinger” and “Blinded In Chains”. The song “Betrayed” off of their album “City of Evil” was written about “Dimebag” Darrel’s, of Pantera and Damageplan, death.

The Deathbat

The band sports a logo known as the “Deathbat”. It was originally designed by an artistic high school friend of Avenged Sevenfold, Micah Montague, as seen on the band’s first DVD, All Excess. The Deathbat has appeared on all of the band’s album covers, many of which were done by Cameron Rackam, a close friend of the band. The Deathbat has developed from just being a skull with bat wings, to sometimes appear as a full “man size” skeleton with bat wings, as it can be seen at the cover of City of Evil. On Sounding the Seventh Trumpet, there are pictures of two people (Presumably Cain and Abel), another angel-like human and a semi-opaque Deathbat below it. It also appears on covers of a number of singles such as “Bat Country”, “Warmness on the Soul” and “Critical Acclaim.”

 

Band members

Image
Current members
M. Shadows ? lead vocals, keyboards, guitars, synth, organ (1999 – present)
Synyster Gates ? lead guitar, backing vocals, piano, keys, synth, organ (2000 – present)
Zacky Vengeance ? rhythm guitar, backing vocals, acoustic guitars, piano (1999 – present)
Johnny Christ ? bass, backing vocals (2002 – present)
The Rev ? drums, percussion, backing vocals, piano (1999 – present)

This page is based on the copyrighted Wikipedia article Avenged Sevenfold

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment